<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="FeedCreator 1.7.2" -->
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <channel>
        <atom:link href="http://liburankejogja.yolasite.com/blog.rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
        <title>blog</title>
        <description>blog</description>
        <link>http://liburankejogja.yolasite.com/blog.php</link>
        <lastBuildDate>Wed, 10 Jun 2026 16:37:31 +0100</lastBuildDate>
        <generator>FeedCreator 1.7.2</generator>
        <item>
            <title>Ngayogyokarto Hadiningrat</title>
            <link>http://liburankejogja.yolasite.com/blog/ngayogyokarto-hadiningrat</link>
            <description>&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; line-height: 20px; color: rgb(204, 204, 204); &quot;&gt;Pada jaman dahulu kala,tersebutlah sebuah kerajaan di jawa yang bernama Kasultanan Mataram.Kerajaan tersebut didirikan oleh Danang Sutawijaya yang memerintah pada tahun 1587-1601,kemudian bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.Istana kerajaannya terletak di daerah kotagede-jogjakarta.Saat itu wilayah kerajaanya meliputi Jawa Tengah saat ini,Setelah Penembahan Senopati wafat,kekuasaannya diteruskan oleh mas Jolang putranya yg bergelar Prabu Hanyokrowati.Pemerintahan Mas Jolang tidak berlangsung lama karena belau wafat karena kecelakaan pada saat berburu di hutan krapyak.Setelah itu tahta kerajaan beralih ketangan putra keempat Mas Jolang yang bergelar Adipati Martoputro. Ternyata Adipati Martoputro menderita penyakit syaraf sehingga tahta beralih ke putra sulung Mas Jolang yang bernama Mas Rangsang.&lt;br&gt;Sesudah naik tahta Mas Rangsang bergelar&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;font-style: italic; &quot;&gt;Sultan Agung Hanyokrokusumo&lt;/span&gt;&amp;nbsp;atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Pada masanya Mataram berekspansi untuk mencari pengaruh di Jawa. Wilayah Mataram mencakup Pulau Jawa dan Madura (kira-kira gabungan Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur sekarang).&lt;br&gt;Akibat terjadi gesekan dalam penguasaan perdagangan antara Mataram dengan VOC yang berpusat di Batavia, Mataram lalu berkoalisi dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon dan terlibat dalam beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC. Setelah wafat (dimakamkan di Imogiri), ia digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I).&lt;br&gt;Pemerintahan Amangkurat I sangat tidak stabil dikarenakan banyaknya ketidakpuasan sehingga menimbulkan pemberontakan.beliau wafat ketika mengungsi (1677).Penggantinya Amangkurat II (Amangkurat Amral), sangat patuh pada VOC sehingga kalangan istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus terjadi. Pada masanya, kraton dipindahkan lagi ke Kartasura (1680), sekitar 5km sebelah barat Pajang karena kraton yang lama dianggap telah tercemar.&lt;br&gt;Pengganti Amangkurat II berturut-turut adalah Amangkurat III (1703-1708), Pakubuwana I (1704-1719), Amangkurat IV (1719-1726), Pakubuwana II (1726-1749). VOC tidak menyukai Amangkurat III karena menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja. Akibatnya Mataram memiliki dua raja dan ini menyebabkan perpecahan internal. Amangkurat III memberontak dan menjadi &quot;king in exile&quot; hingga tertangkap di Batavia lalu dibuang ke Ceylon.&lt;br&gt;Kekacauan politik baru dapat diselesaikan pada masa Pakubuwana III setelah terjadinya kesepakatan untuk menandatangani perjanjian damai antara Pakubuwono III dengan Pangeran Ario Mangkubumi, yang masih saudara sendiri dari Sinuhun Pakubuwono ke I, yang mengangkat senjata karena merasa diingkari janji oleh Sinuhun Pakubuwono ke II.Perjanian tersebut dilaksanakan pada tanggal 13 Februari 1755 dengan disaksikan kompeni, disuatu desa kecil Gianti, dekat dengan kota Karanganyar sekarang.&lt;br&gt;Dalam perjanjian ini disepakati bahwa wilayah Mataram dibelah menjadi dua bagian yang sama, “sigar semongko” istilahnya. Bagian barat untuk Sinuhun Pakubuwono III dan bagian timur untuk Pangeran Ario Mangkubumi.&lt;br&gt;Pada saat itu pula Pangeran Ario Mangkubumi sekaligus dinobatkan menjadi SULTAN HAMENGKUBUWONO KE I dengan gelar, Sultan Hamengkubuwono Senopati ing Ngalogo Abdurahman Sajidin Panotogomo Khafilatolah.&lt;br&gt;Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;Ngayogyokarto Hadiningrat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;dan beribukota di Ngayogyokarto (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755.&lt;br&gt;Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang disebut Beringin,suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi tersebut nampak strategi menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton.&lt;br&gt;Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan.&lt;br&gt;Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan nama utuhnya ialah Negari Ngayogyokarto Hadiningrat. Pesanggrahan Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah menetap di Kraton yang baru. Peresmian terjadi Tanggal 7 Oktober 1756.&lt;/span&gt;&lt;br&gt;</description>
            <pubDate>Thu, 03 Jun 2010 14:31:45 +0100</pubDate>
        </item>
    </channel>
</rss>
